“Sistem remunerasi a.k.a. gaji untuk PNS dirasakan sangat memprihatinkan alias tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari para abdi masyarakat yang dituntut selalu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang membutuhkan”

Kutipan di atas saya intisarikan dengan seenaknya dari sebuah seminar mengenai reformasi sistem manajemen kepegawaian yang diadakan oleh sebuah departemen di bilangan Kebayoran Baru. Turut hadir dalam seminar ini adalah pejabat-pejabat dari Badan Kepegawaian Nasional (BKN), Lembaga Administrasi Nasional (LAN) dan Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (KemenPAN).

Kalo ditanya, “Cukup ga Be, gaji (plus tunjangan)mu sebagai PNS digunakan untuk beli makan, bayar kos (kalo ngekos), beli bensin (kalo ada kendaraan), ato ongkos bis (kalo ngebis)?”, maka jawabnya adalah cukup nggak cukup. Aku, seorang PNS rendah bergolongan III/a dan berpenghasilan sekitar Rp1,3juta per bulan. Masih lajang (mau nikah rencananya) dan masih numpang tinggal di rumah saudara. Pengeluaran antara lain untuk transport (bis) sehari pp rata-rata Rp15.000-Rp20.000. Sebulan kira-kira keluar (ambil paitnya) Rp400.000. Untuk makan, sehari aku bisa jajan dua kali, disebabkan ritme kerja kantor yang datang jam 8.30 pagi dan pulang rata-rata jam 20.00 malam. Sehari bisa habis Rp20.000, sebulan ya kira-kira Rp500.000an. Sisa Rp400.000an buat apa? Apa hidup kita hanya naik bis & makan? kebutuhan lain? Untung aja realitasnya, meskipun penghasilanku cuma segitu, tapi ada aja rezeki (insya 4JJ halal lhoooo..dijamin) sehingga sampe sekarang aku masih bisa mempertahankan berat badan yang udah kurang.

Ada seorang pejabat eselon satu yang mengatakan bahwa dalam reformasi sistem kepegawaian dalam rangka menciptakan aparatur yang profesional dan handal, tidak perlu disinggung mengenai masalah remunerasi. Yang harus diperkuat adalah ‘militansi’ dan kesadaran si pegawai bahwa dia hidup sebagai abdi negara yang dituntut untuk melayani masyarakat dengan gaji seadanya. YA IYALAAAAAH…secara dia itu eselon satu yang departemennya mempunyai banyak proyek dan kemungkinan beliau ini duduk sebagai salah satu komisaris di anak perusahaan (BUMN) yang dibawahi oleh departemen tersebut. Meskipun dia bilang “gaji saya hanya Rp1,6 juta, meskipun kalo ditambah tunjangan ya jadinya 6,6 juta, tapi saya bangga jadi PNS”. WAH…GUNDHULMU APEK!!!

Jika kita lihat, asas ‘keadilan’ bagi PNS saat ini cukup memperihatinkan dan masih ego-sektoral. Melihat seolah-olah instansinyalah yang paling banyak beban, tanggung jawab, risiko dlsb. Koq aku liat di Depkeu sendiri gaji orang-orang Ditjen Pajak sudah gila-gilaan..dengan alasan TARGET PENERIMAAN PAJAK RP400TRILYUN yang harus ditunjang dengan (antara lain) penghasilan pegawai yang harus memadai. Apa mereka ga sadar kalo, misal, Depdag harus bisa juga membuka perdagangan Indonesia seluas-luasnya tanpa menciderai pasar dan dan berpotensi mendatangkan penghasilan dan devisa bagi Indonesia dalam jumlah yang tidak sedikit? Terbukakah mata mereka jika aparatur diplomasi kita di Deplu masih belum dalam ‘zona aman’ dalam melaksanakan diplomasi karena masih harus memikirkan untuk menghidupi keluarga saat mereka bertugas di dalam negeri? Belum lagi departemen lain..dan profesi lain seperti GURU misalnya?

Kembali lagi, meskipun kita yang aparat negara ini selalu repeat selalu berusaha untuk memberikan pelayanan publik yang prima, tapi tidak serta merta kata sakti ‘pengabdian’ menjadi ‘kunci’ yang membatasi gerak pegawai untuk meminta kesejahteraan. Ingat..bahwa seiring dengan sistem yang berbasis kinerja untuk menuju good governance, pegawai akan berubah menuju pribadi yang lebih profesional. Profesional disini berarti tidak sekedar datang ke kantor, baca koran dan leyeh-leyeh..atau titik ekstrem sebaliknya yang kerja keras banting tulang hanya demi pengabdian kepada negara. Tapi profesional yang jujur, penuh komitmen dalam menjalankan tugas, berusaha memberikan kontribusi bagi negara..dengan catatan, bahwa jerih payah mereka, komitmen mereka dan pengabdian mereka mendapatkan ganjaran yang setimpal (baca: layak) sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta evaluasi kinerja yang terukur.

Jadi, mau ke arah mana kita menuju? gelap..

About these ads