You are currently browsing the monthly archive for Juni 2007.
Suatu pagi..
Anak (A): “Assalamualaikum..Pak”
Bapak (B): “Waalaikum salam..kenapa Le?”
A: “Nggak Pak, cuma mau bilang aja..yang ngobrol kemaren itu lho.”
B: “Oooh..soal mobil tho? Jadi gimana Le? Kira-kira apa menurutmu yang bagus?”
A: “Hmmm..susah Pak. Tapi Bapak carinya yang cc kecil dan irit, ga terlalu mahal trus bisa muat banyak tho? Sejauh ini sih ya masih itu-itu aja Pak pilihannya. Oiya, Bapak mau yang bener2 gres kan? Saya bilang antara Grand Livina (GL) ama Avanza 1.5 deh.”
B: “Lha kamu udah tanya ke temen2 belum? Jangan sampe nanti Bapak nyesel gara-gara salah beli.”
A: “Kalo dari yang aku denger sih Pak, rata-rata menyarankan ambil GL aja. Alasannya, GL bener-bener mobil baru, mesinnya lumayan kuat dan katanya irit, 1 liter bisa sampe 15 km katanya..cuma katanya lho Pak. Trus interior udah kaya mobil bagus..suspensi nyaman ditambah transmisi yang smooth. Kekurangannya sih gara-gara indennya lama banget, trus kualitas masih belum teruji..seenggak-enggaknya di Indonesia. Ditambah jaringan servisnya yang ga sebanyak Avanza. Tapi ini baru katanya plus pendapat media (yang ga tau dibayar apa nggak sama pihak pabrikan mobil). Soalnya di media segalanya bagus sih Pak. Heran, koq ada aja mobil yang perfect dengan harga segitu. Tapi setau saya sih fitur di GL masih kalah dengan Avanza.”
B: “Hmmm (sambil mangut-mangut). Lha kalo Avanza gimana?”
A: “Kalo temen-temen bilang mendingan ambil yang 1500cc sekalian. Konsumsi BBMnya ga terlalu njomplang dengan yang 1.3. Udah teruji sih katanya, meskipun di berbagai forum banyak juga keluhan. Ya wajarlah, seiring waktu kan kelemahannya bisa ketauan. Kalo GL belum tau Pak. Oiya, mungkin pastiin ke salesnya, kalo ada apa2 komplainnya harus dijamin dan dilayani, ga cuma didengerin. Cuma dengan harga lebih murah 19 jutaan dari GL, Avanza S udah dapet yang lebih banyak daripada GL. Ini kan juga bisa dipertimbangkan Pak.”
B: “Kamu ini gimana tho?? Bapak kan jadi bingung!!!”
A: “Loh, koq malah marah-marah tho Bapak ini? Sabar Pak, kan bisa telpon ke salesnya, minta test drive aja Pak, tar juga bisa ngerasain.”
B: “Oiya ya..maklum Lo, Bapak kan darah tinggi, jadi gampang marah. Yo wis nek ngono ben tak telpone salese. Tapi kayanya Bapak dah punya gambaran apa yang mau dibeli koq. Gitu aja..kamu jam segini koq belum ngantor?”
A: “Loh..(sambil liat jam)..oiya Pak, aku telaat!!! Gara-gara Bapak tanya mobil sih..tar aja Pak disambung ya..kasi tau aku kalo Bapak jadi ambil salah satu yaaaa…Assalamualaikum..”
Tuut..tuut..tuut….
Bapak: “Le (Thole=anak laki-laki), Bapak mau ambil mobil baru, enake apa ya?”
Anak: “Lha Bapak mau yang kaya gimana?”
B: “Bapak maunya itu yang kaya punya Pak Ragil sebelah rumah itu lho, tapi koq boros ya?”
A: “Ooh, Kijang Innova tho Pak..itu sih memang boros, wong 2000cc. Padahal katanya udah pake VVT-i lho Pak.”
B: “Maksud kamu opo tho Le? Koq Bapak gak ngerti?”
A: “Begini Pak, kata orang dan kata iklan, mobil yang udah pake VVT-i (Variable Valve Timing Intellegent) harusnya irit dan bertenaga. Saya juga liat di majalah-majalah luar negeri, kalo di sana mobil-mobil 2000an cc aja bisa tembus 1 liter bensin untuk 14 kiloan lho. Lha ini Innova susah banget sampe 1:10.”
B: “Ealaah, gitu tho maksudnya. Lha kalo Serena dan sejenisnya piye Le?”
A: “Ya sami mawon Pak, kayanya rada boros. Mending ambil mobil yang agak kecilan Pak, kan sekarang ada Nissan Grand Livina, Toyota Rush dan Avanza, ato kalo mau juga ya Daihatsu Terios dan Xenia. Lumayan lho Pak, sama-sama bisa muat sampe 7 penumpang, kecuali Rush yang 5 penumpang. Harganya juga di bawah Kijang. Atau mau yang 5 penumpang aja Pak? Banyak yang keren-keren lho Pak (sambil manas-manasin Bapaknya), ada CR-V, Grand Vitara, X-Trail juga.”
B: “Halah..kamu itu..kaya Bapak ga tau aja. Ya ntar dulu, Bapak tak mikir sik, ini duitnya juga mepet banget, pas-pasan gitu. Jadi enaknya apa Le, pokoke yang bisa 7 penumpang dan ga terlalu mahal, sukur-sukur irit bensin. Kamu tau kan Bapak di kampung, tetangga itu banyak yang bisa nunut (baca: nebeng) kalo ada hajatan.”
A: “Ya ga bisa sekarang Pak (n)jawabnya, kan mesti ada ‘riset’ dulu. Kalo mau tuh bisa coba Livina, tapi fitur keselamatan standarnya agak minim. Terios lumayan juga Pak, ato Avanza S aja yang paling bagus dari Avanza. Kalo merek lain yang harganya ‘masuk’ ya saya belum tau je. Ntar tak cariin informasinya Pak.”
B: “Yang cepet yo Le, ini duitnya selak (baca: keburu) kepake yang lain-lain.”
Lintasan khusus bus alias busway lagi-lagi memakan korban. Namun korbannya sekarang adalah mobil Dinas Perhubungan yang dirusak massa gara-gara petugas yang main tangkap dan tilang. Mungkin link beritanya masih aktif di-sini. Masalah jadi panjang gara-gara hal ini berkembang jadi rivalitas antar instansi, yaitu Dishub dan Polisi, yang masing-masing punya pegangan hukum. Yah, satu lagi bukti kegagalan busway untuk menjadi salah sati opsi moda transportasi Jakarta. Kalo untuk kasus ini aku sih milih memihak ke Polisi. Jangan sepenuhnya menyalahkan Polisi kalo tiap pagi simpang Senen dari Cempaka Putih macet mulu. Kerjaan mereka jadi tambah berat gara-gara harus ngatur ribuan kendaraan yang semakin ga punya jalan gara-gara jalur khusus terkutuk busway untuk Transjakarta ini. Macet bukan berarti memaksa pengendara untuk beralih ke Busway, karena toh moda ini ga bisa diandalkan. Dengan kata lain: Bubarkan Busway (selain koridor I lhooo..hihihi)!!!
(ga suka busway non koridor I mode: ON)
(sedikit serius mode: ON)
Jika dilihat kembali, busway yang terinspirasi dari moda transportasi sejenis di Bogota diciptakan untuk memecahkan masalah kemacetan di Jakarta.
Lha kalo di korodor I pancen oye Mas..di koridor lain gimana?
Koridor II dst kan dibangun di kawasan yang berdisiplin rendah, makanya jalanan yang tadinya macet jadi semakin ga karu-karuan.
Lha bapak-bapak petinggi Jakarta itu terus pada mikirin social & opportunity cost-nya ga sih??
Maksud kamu?
Ya itu Mas..kalo busway dirancang untuk mengatasi kemacetan, lalu biayanya dibandingkan dengan pemborosan sia-sia dari BBM orang-orang yang terkena kemacetan, kerusakan lingkungan, produktivitas pekerja yang anjlok dan lain-lainnya itu? Gimana dong?
Wah..bukan saya yang berkompeten menjawabnya. Tapi setau saya, ada beberapa pejabat yang memang bilang kalo kemacetan itu di’sengaja’, biar para pengendara mobil tau rasa™ dan pindah ke busway.
Ooh..jadi dipaksa ya Mas?
Iya sih kayanya, biar
proyek jalan terusga terjadi kemacetan gara-gara mobil pribadi, meskipun untuk itu harus mengorbankan hal yang lain.
Nah, kemacetan gara-gara kendaraan pribadi ini sebenarnya dimulai dari pengendaranya sendiri. Kalo kita lihat tiap pagi (hari kerja dan anak sekolah pada masuk), kendaraan ini bersaing untuk mengalahkan satu sama lain, sama jahatnya dengan para kopaja dan metromini itu. Ada jalur kosong, sikat. Ada orang lambat, potong. Ada yang ga maju, klakson sepuasnya. Apalagi ada jalur busway nganggur, sementara jalur umumnya macet, ya belok deh.
Kalo diambil contoh Bogota yang jadi model busway dengan Trans Milenio-nya, mereka sudah memikirkan konsep yang terpadu dalam pengadaan jalur khusus ini. Dibandingkan dengan Jakarta, Bogota terlihat dapat berpikir secara jernih dan tidak diburu deadline terburu-buru, sehingga dapat benar-benar mematangkan konsep moda transportasi umum yang murah, cepat dan terjangkau bagi masyarakat. Di Jakarta sama sekali tidak terdapat kebijakan yang komprehensif dan saling melengkapi satu sama lain, sehingga dapat dihindarkan terjadinya masalah seperti antara Dishub dan Polisi ini. Jadi intinya? Berbahagialah masyarakat pemakai busway yang dapat memanfaatkan angkutan ini, meski jauh dari kenyamanan. Sedikit berduka bagi pemakai kendaraan pribadi yang sama-sama bayar pajak tapi tidak boleh menggunakan beberapa ruas jalan yang dibangun dari uang pajaknya. Kepolisian jadi semakin capek. Dishub juga jadi bingung. Petinggi-petinggi tetap makmur karena adanya proyek kejar setoran ini. Kapan Jakarta semakin baik?
Kali ini sekuelnya mempunyai lakon Grand Vitara Silver dengan plat B 1127 **, yang bergaya koboi saat melintas dari Senen ke Pejambon. Untung dah deket kantor, kalo enggak ya diajak berperkara aja tu mobil..
Nonton Fantastic Four kali ini memang luar biasa. Kalo biasanya aku nonton berdua aja ama calon bini, sekarang ber-27!!! Haaah???!!!! Iya, ber-27 temen-temen kantor seangkatan, ditambah beberapa ‘perintilan’ yang menambah semarak suasana. Setelah jam kantor (ket: jam kantor merupakan sesuatu yang masuk kategori ‘luxury’ di tempat kerja yang sekarang) aku, calon ditambah satu makhluk (kalo bisa disebut makhluk) bernama Hardi a.k.a Bobi (dulu dia Botak Biadab) bergegas menuju Djakarta Theatre. Sesampainya di sana kita ga langsung nonton, tapi makan Sate Kambing khas Lamongan di pojokan Jl. Sabang (review menyusul). Setelah kenyang, kita ber-3 menyusul temen-temen di Kafe Cartel, dan langsung menuju bioskop.
Akhirnya rombongan pun terkumpul sudah, meskipun masih menunggu sedikit ‘percil’ yang ketinggalan di kantor. Jam 19.15 kita masuk Theatre 1, yang ‘dinodai’ oleh ditumplekkannya softdrink-ku ama bojoku. Setelah sempet be-te selama 1 menit, akhirnya semua pun berjalan lancar dan kita menonton suguhan dari 20th CENTURY FOX dan MARVEL ini.
“Harga minyak sekilo berapa Mang?”
“Rp9000 Bu”
“Koq mahal amat?”
“Iya Bu, ga tau nih, pasokannya belakangan seret”
Percakapan di atas mungkin terjadi akhi-akhir ini di pasar-pasar tradisional. Langkanya minyak goreng membuat harga komoditas ini meroket tajam, hingga Rp9,5K di berbagai tempat di Indonesia. Hal yang kurang lebih sama terjadi pada tanggal 1 Juni 2007 lalu.
“Isi apa boss?”
“Pertamax aja Pak”
“Tapi sekarang naik ya Mas”
“Hah?? Emang sekarang berapa Pak?”
“Rp6400 boss, ga tau nih, tau-tau naiknya jauh”
Sedikit melihat ke belakang, di masa lalu, hal-hal seperti ini sangat jarang terjadi. Aku tidak tahu persis langkah pemerintah saat itu, maklum masih kecil. Namun masyarakat kecil melihat saat itu pemerintah secara tanggap turun tangan dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat. Hal yang mereka anggap sangat langka saat ini.
Kata Pahmi..nasib pegawai rendahan memang untuk diinjek-injek (emang keset??)
Yah..memang si Pahmi nyadar kalo dia keset..lha gua????? kan kalo keset mau diinjek kaya apa juga selalu welcome. Kata Pahmi lagi, katanya ganti aja tulisan di keset jadi F**K OFF..sapa tau nasib juga berubah..
Yah..ternyata yang pegawai rendahan emang si Pahmi
*sambil ngedengerin Pahmi maki-maki Boncu yang mo nebeng, tapi bikin si Pahmi nunggu*
Suatu malam, Selasa, 12 Juni 07, 20:32 WIB
Kenapa nasibku sial banget..
Disuruh nungguin bos yang lagi ketemu ama bosnya (lho)
Cengok ga ada yang dikerjain dari abis Maghrib
Ga dapet uang lembur pula
Entah sampai kapan ku menunggu
Sampai si bos tidak tega melihat kita termangu
Nasiiiib jadi pegawai rendahan
*ngetik sambil memupuk ‘ambisi’*
Aksi pepet-pepetan dan salip-salipan terjadi pagi ini antara aku dan sebuah mobil Kijang Krista biru dengan plat B 8XXX SF. Peristiwa ini terjadi di kolong fly-over dari patal senayan ke arah Pejompongan. Apa pasal? Aku juga ga tau..tapi dilihat dari agresifnya si bu sopir (ibu-ibu??iya!!!), aksinya sebagai seorang perempuan (please..ini bukan masalah gender, tapi kepatutan..karena laki-laki lebih brengsek
) memang luar biasa. Dimulai dari antrean kendaraan yang merayap di dekat masjid selepas Gramedia Pusat, mobil ini beraksi memotong jalan kanan kiri. Jelas, aku sebagai salah satu pengendara yang benci dipotong (ya iyalaah, udah defensive driving koq dipotong, ya ‘naik’lah) ga kasih jalan. Karena, selain di jalurku jarak dengan kendaraan depan udah mepet sehingga dia ga mungkin pindah jalur, di jalur ‘beliau’ sendiri sudah berhenti. (lihat bagaimana aturan-aturan defensive driving di sini)
Lepas dari situ, aku dengan santai mengarahkan kendaraan menuju kolong flyover arah Pejompongan. E..e…e..eeee, tau-tau si Krista biru ini muncul dari sisi kiri dan langsung memaksa masuk ke jalur yang seharusnya diperuntukkan khusus dua jalur, dan dia menjadi pionir jalur (setan) ketiga. Karena si Krista ini persis di samping kendaraanku, dan menurut peraturan, posisiku memang menang, maka dia ga aku kasih jalan sama sekali. Apa yang terjadi?? Ternyata Krista ini terus memepet kendaraanku dan terus..terus..terus..sampe dia ketemu celah di dekat perlintasan kereta api. Langsung dia pindah ke jalur kosong..iya…jalur kosong di sebelah kirinya. Wah..hebat bener neh si ibu, pinter melihat peluang, pikirku
.
Lalu, apa lagi yang akan terjadi??? Dia mengambil jalan di sisi kiriku!!. Secara (ciee…pake secara) aku udah di jalur kiri!!. Nah, di sini aku mulai terprovokasi. Aku pepet dia, aku buka kaca jendela, dan ternyata meskipun ibu-ibu, dia berani membalas aku lewat pandangan matanya yang merangsang menantang!! Waduh..si ibu ini emang berani cari perkara. Meskipun aku jadi ‘panas’, tapi kepala alhamdulillah tetap adem. Hal ini tak lain karena lagu Jamiroquai – Virtual Insanity menyertaiku..hehehe. Krista ini memotong kanan kiri tanpa sen dan sangat sangat berbahaya. Nah, lepas lampu merah aku kejar dia..dan jelas dapet dong..kan aku dah belajar nyetir angkot dari SMP..(sombong). Sengaja tidak aku salip dia, karena kalo aku lakukan, pasti urusannya bakal panjang. Aku keluarkan saja hape, lalu kusorotkan ke Krista brengsek itu seakan-akan merekam tingkah polahnya. Eh..tak kusangka cara ini berhasil!!. Sebelum Hotel Sangri La, si Krista ini mendadak jadi adem dan kalem. Aku salip pun dia tetep kalem. Aku sengaja pelanin mobil, dia malah ‘ndhelik’ alias ngumpet di belakang mobil belakangku (nah lo, bingung ^_^). Mungkin dia takut rekaman videonya nyebar di internet..hehehe. Akhirnya, dengan rasa menyesal karena pagi ini sempat dinodai dengan perasaan amarah, tapi aku tersenyum juga akhirnya. Selain ‘menang’ dari si Krista dan ibu yang mengerikan itu, paling tidak satu mobil telah merubah sikap agresifnya di jalan raya, ga tau sampe kapan..
Defensive Driving/Riding (DD/R)
Defensive Driving/Riding sangat diperlukan dalam berlalu lintas di jalan raya. Apalagi di Jakarta yang bukan saja kemacetannya yang parah, tapi juga perilaku berkendara masyarakat yang luar biasa. Agresif, ga mau kalah, saling sodok sudah menjadi pemandangan biasa di Jakarta. Aku sendiri meskipun sudah berusaha menerapkan DD/R tapi terkadang masih juga terpancing emosinya. Bagaimanapun susahnya, yang penting kita coba mulai untuk memperbaiki perilaku kita di jalan raya, yang pastinya, jadi salah satu bagian akhlakul karimah
.











