3 in 1, ERP, Motor..

Tadi pagi, aku berangkat ngantor lewat Sudirman-Thamrin. Temenku si mBakyu Rina tiba-tiba nyeletuk..”Be, katanya motor-motor itu dah pasti ga boleh lewat Thamrin ya??”. Trus aku bilang aja, “ya nggaklah, wong payung hukumnya sebenernya ga ada koq, belum jelas”. Bersama kita ada joki 3in1 di jok belakang, bengong..

Aku pribadi ga setuju dengan pelarangan itu. Para pengendara motor adalah warganegara yang turut membayar pajak kepada negara. Sudah sewajarnya mereka menikmati hasil dari apa yang telah mereka bayarkan. Sedikit yang mengganjal dari pengendara motor ini adalah perilaku mengendara yang cenderung ugal-ugalan. Aku sendiri adalah motoris. Prinsipku kalo mengendara motor, boleh cepet, asal ga ugal-ugalan. Sementara yang terjadi di jalanan di Jakarta adalah pengendara motor yang seenaknya tanpa memperhatikan pengendara lain. Hal ini terutama di jalanan yang bukan jalan protokol. Bahkan di Jalan Letjen Suprapto alias Cempaka Putih, pengendara motor perilakunya lebih parah dari orang yang ga berpendidikan, atau mereka memang tidak berpendidikan? Aku sih sadar kalo ga semua motoris seperti itu, tapi kalo di antara mereka tetap mengemudi seenaknya, kan bikin pemerintah gerah, yang ujung-ujungnya melarang pengendara motor melewati jalan protokol. Yang rugi siapa?

Kembali ke laptop perjalanan menuju kantor. Kita mendiskusikan pro kontra 3in1 dan ERP (Electronic Road Pricing) dengan memperhatikan kondisi di lapangan. Aku kalo ga salah pernah denger (di radio) atau baca (di internet), maaf kalo kurang valid, menurut salah seorang pejabat Polda Metro Jaya (Ditlantas) mengungkapkan kalau sebenarnya 3in1 tidak usah diganti menjadi ERP. Hal ini merujuk kenyataan bahwa pada jam-jam 3in1 kondisi lalu lintas di jalur-jalur 3in1 menjadi lengang dan tidak macet, yang menjadi indikasi keberhasilan 3in1. Apa pak polisi ini ga make otak kalo ngomong? Apa dia ga ngeliat kalo di Mampang, Pejompongan, dan jalur lain yang menjadi pelarian orang-orang kantoran yang bermobil sendirian? Apa dia tidak sadar kalo dekat sekali dengan kantornya, jalanan non 3in1 berubah menjadi “NERAKA” yang kemacetannya luar biasa parah???

Sebetulnya tidak adil juga kalau kita menyalahkan lembaga kepolisian sebagai instansi yang gagal menjalankan fungsinya. Instansi pemerintah terkait juga besar peranannya dalam menciptakan kesemrawutan di jalan raya. Pola kebijakan yang sepotong-sepotong dengan pemikiran yang sporadis dan tidak berkelanjutan dari pemerintah daerah yang tidak didasari perencanaan yang matang dan tata kelola yang baik sangat menyengsarakan masyarakat Jakarta. Belum lagi kalau kita bicara tentang moda transportasi massal yang andal dan murah serta tepat waktu.

ERP mungkin dapat menjadi solusi sementara sebagai pengganti 3in1. Idenya sendiri (kalau saya lho) bukan sebagai alat mengatasi kemacetan, tapi sekedar mendistribusikan arus kendaraan sehingga kemacetan ga bertumpuk di satu tempat. ERP juga lebih fair jika dipandang dari prinsip siapa memakai dia membayar. Jadi kalau ada pengendara yang ingin lewat jalan dengan sistem ERP, ya dia harus bayar, dan bayarannya memang masuk ke kas pemerintah asal jangan dikorup. Kembali ke pengendara, dengan ERP maka mereka tidak perlu lagi akal2an dengan polisi melalui perjokian. Uang yang mereka bayarkan sudah jelas masuk ke kantong penguasa kas negara. Meskipun di satu sisi, para joki kehilangan mata pencaharian, namun seharusnya jika kebijakan dibuat secara holistik dan multidimensional (waduh bahasane) pemerintah sudah siap dengan berbagai program untuk mengurangi pengangguran.

Aku sadar kalo tulisan di atas adalah hasil ngelindur dan mimpi selama ini. Kenyataannya?ya terserahlah, di Jakarta, suatu hal yang pasti adalah ketidakpastian..

9 komentar

  1. polisi yang bener di dunia ini cuma dua, mas.
    sayangnya yang satu sudah wafat,
    satunya lagi polisi tidur😀

  2. lha sijine sopo jo? selama polisi masih bisa disogok, maka pengendara akan merasa aman dan sah untuk melanggar (koyo aku nek kepepet)

  3. ERP? kirain Enterprises Requirement Planning
    maklum lama berkutat di PPIC

  4. Totally, lalulintas di jakarta itu sudah gak ketulungan semrawutnya. Pengendara motor itu khan juga KORBAN dari transport publik yang tidak tertata. Pilih motor karena kreditnya dibuat gampang. Mereka kerja setengah mati untuk bayar kredit motor, sampai mengorbankan paru-paru mereka di tengah polusi dan menyabung nyawa di jalanan. sedih.

  5. @kang Adhi

    betul mas..makanya kalo pulang dari dinas luar, ngeliat lalu lintas dan sarana transportasi koq jadi ngelus dada..

  6. Anonimajah · · Balas

    Polisi “bener” yg udah wafat itu klo ga salah namanya (alm.) Pak Hoegeng. Yg -jaman-channel-tv-masih-TVRI- suka hobi manggung nyanyi lagu-lagu hawaii. Gile abis.. pak Hoegeng berani nantangin Olo Panggabean, gembong judi Batak terkenal

  7. @Anonimajah

    Woo..iya ya..pernah denger koq saya. Matur nuwun sudah mengingatkan saya mas/mbak Anonimajah🙂

  8. Idetrorce · · Balas

    very interesting, but I don’t agree with you
    Idetrorce

  9. Mas/Mbak Idetrorce (walah, susah amat😛 )

    Don’t agree-nya di bagian mana ya? sapa tau bisa jadi masukan🙂
    thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: