Pertamina, Pelayanan dan Mahalnya BBM

Pertamina

Satu kata yang membawa kita ke kenangan masa lalu..di mana harga BBM begitu murah, dan isi perusahaannya orang-orang berkecukupan semua, apalagi jajaran petingginya. Benar-benar cukup (cukup punya mobil, cukup punya banyak rumah, cukup punya kolam renang, cukup punya helikopter, de el el). Sedikit ke bawah pun pegawainya pas-pasan (pas butuh duit ada, pas butuh mobil bisa juga kebeli, de el el). Itu dulu..

Sekarang masanya berbeda. Pertamina sudah dituntut berubah ke arah yang lebih baik, terutama setelah pesaing-pesaing baru bermunculan. Sebut saja ‘Kerang’, ‘Perusahaan Minyak Nasional’, ‘Teluk’, dan masih banyak pesaing lain yang sepertinya bakalan tergiur dengan ceruk pasar BBM yang besar di Indonesia. Lebih spesifik kita bicara masalah pelayanan di SPBU. Go to h*ll dengan penyimpangan keuangan di masa lalu..mari bicara yang kita rasakan langsung di pom bensin. Biasanya, masalah utama kita di pom bensin (dulu ya cuma Pertamina) adalah:

  • takaran sering dikurangi;
  • bensin sering dicampur, terutama premium. Kan sama aja beli bensin campur di pinggir jalan;
  • pelayanan selalu tidak memuaskan. No Senyum, No Kembalian, No Liat-liat Meteran (apa lu liat-liat meteran bensin gua!!!), bensin selalu tumpah, antre puanjang (selak entek bensine Pak), daaan lain-lain (kalo aku cukup tiga ini).

Tapi, dulu bensin emang murah banget..sama aqua aja murah bensin kali. Tapi kalo tidak disertai dengan pelayanan prima dan perlindungan konsumen yang handal, yah…gimana ya?

Sementara sekarang ini, para pesaing, ‘Kerang’ misalnya..memiliki pelayanan yang memuaskan. SPBU selalu besar dan lebar, sehingga antrean tidak/jarang terjadi, petugas selalu ramah, kualitas BBM sejauh ini juga ga perlu dipertanyakan. Ditambah layanan lain yang dapat dinikmati konsumen secara cuma-cuma, dan yang penting KONSISTENSI dalam menjaga mutu produk dan pelayanan, membuat konsumen (seperti aku) ‘agak’ terbuai dengan produsen yang satu ini. Hanyaaaaa…(nanti ada sambungannya koq di bawah)

Masalah konsistensi pelayanan menjadi masalah bagi Pertamina. Setidaknya, ini menurut pendapatku lho. Ambil contoh SPBU Pertamina di Jl. Gatot Subroto (yang jejeran Plaza Semanggi ke arah Kuningan itu lhoo..). Di awal berdirinya SPBU pesaing di dekat Pancoran, SPBU Pertamina ini dibangun dengan konsep pelayanan yang diharapkan menyaingi si ‘Kerang’. Ada pengisian angin ban (plus Nitrogen malah!!) dan air radiator. Petugasnya juga muda dan masih ‘fresh’, bisa berlaku ramah terhadap konsumen. Lalu ada papan keterangan harga yang berlaku pada hari itu..dan ada juga papan indikator kepuasan konsumen. Namun apa yang terjadi? Rupanya konsep ‘hangat-hangat tai ayam‘ yang berlaku di sini. Aku terakhir ke SPBU ini dua bulan yang lalu dengan meninggalkan sejumlah kekecewaan, yaitu:

  • SPBU ini kembali ke jaman purba, kotor dan sesak
  • isi angin/NO2 dan air bisa dilakukan sendiri!! petugasnya lagi kemana ga ada yang tau. Yang ada malah satpam disuruh ngisi angin ban..kasian
  • petugas koq mengalami penuaan yang lebih cepat..beberapa bulan lalu SPBU ini isinya masih taraf Mas dan Mbak..lha sekarang koq tau-tau jadi Bapak-bapak bangkotan..ke mana yang muda???
  • Keramahan yang dulu ada lenyap tak bersisa, yaah, jadi standar SPBU Pertamina lagilah pokoknya.

Kalo untuk takaran dan kualitas sih belum terbukti ga bener, jadi bagus-bagus aja.

Nah, kembali ke hanyaaaa…

Hanya saja sekarang ini untuk BBM Non-Subsidi koq sepertinya (dengan alasan mengikuti harga pasar dunia) seluruh produsen penyedia BBM ‘kompak’ untuk punya harga yang mirip ato bahkan sama. Ada apa ini? kesannya koq gini, ooh..pemimpin pasar aja naikin harga jadi segitu, yok rame-rame naikin harga, toh sama-sama untung. Konsumen juga ga punya pilihan..karena kondisi yang seperti ini. Aku waktu di ‘abroad’ kebetulan ga pernah ngisi bensin, wong kemana-mana naik subway ato bis. Ada supir kantor, tapi kan dia yang ngisi bos…mau di mana aja kita ga pernah tau tuh, jadi ga bisa membandingkan kondisi di ‘sana’ dan di sini.

Ya begitulah keluh kesah kita-kita sebagai konsumen. Punya BUMN yang katanya besar dan tangguh serta siap bersaing, tapi kenyataan di lapangan berbicara lain. Harapan apa yang bisa kita dapat sebagai konsumen?? Jangan cuma ngurusin balap-balap ga mutu yang pembalapnya ga pernah menang. Mending ke balap motor aja, dah jelas kita lebih mampu..lha ini?? cuma ngeborosin duit aja.

Oiya, untuk Pertamina, kalo bisa diadakanlah semacam ‘open house’ gitu, untuk melihat fasilitas R & D Pertamina. Konsumen kan juga pingin tau proses munculnya Pertamax Plus, ato Fastron misalnya. Jadi biar kita yakin ga ada ‘outsourcing’ gitu…hehehe

One comment

  1. […] Dalam tulisan yang sama juga disinggung mengenai masalah kelangkaan dan kenaikan harga BBM, yang menurutku akibat ‘kesalahan peramalan dan operasionalisasi lapangan’. Masuknya pemain baru (baca: asing/swasta) tidak serta merta membuat kondisi retail BBM, khususnya BBM untuk kendaraan bermotor menjadi kompetitif. Namun yang terjadi saat ini memang seakan-akan pemerintah melalui BUMN terkutuknya menaikkan harga seenak udelnya, yang parahnya diikuti oleh sang kompetitor swasta. Sehingga kesan yang ditangkap adalah: pemerintah dan swasta kongkalingkong mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, bersama-sama. Di lapangan, tidak terlihat adanya upaya pemerintah (BUMN) untuk bersaing dengan pemain swasta, dan demikian juga sebaliknya. Yang ada hanyalah kenaikan harga BBM berjamaah. Pemerintah melalui anteknya BUMN-nya hanya ‘berusaha menutup mata konsumen’ dengan pelayanannya. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: