Antara Dishub dan Polisi

Lintasan khusus bus alias busway lagi-lagi memakan korban. Namun korbannya sekarang adalah mobil Dinas Perhubungan yang dirusak massa gara-gara petugas yang main tangkap dan tilang. Mungkin link beritanya masih aktif di-sini. Masalah jadi panjang gara-gara hal ini berkembang jadi rivalitas antar instansi, yaitu Dishub dan Polisi, yang masing-masing punya pegangan hukum. Yah, satu lagi bukti kegagalan busway untuk menjadi salah sati opsi moda transportasi Jakarta. Kalo untuk kasus ini aku sih milih memihak ke Polisi. Jangan sepenuhnya menyalahkan Polisi kalo tiap pagi simpang Senen dari Cempaka Putih macet mulu. Kerjaan mereka jadi tambah berat gara-gara harus ngatur ribuan kendaraan yang semakin ga punya jalan gara-gara jalur khusus terkutuk busway untuk Transjakarta ini. Macet bukan berarti memaksa pengendara untuk beralih ke Busway, karena toh moda ini ga bisa diandalkan. Dengan kata lain: Bubarkan Busway (selain koridor I lhooo..hihihi)!!!

(ga suka busway non koridor I mode: ON)

(sedikit serius mode: ON)

Jika dilihat kembali, busway yang terinspirasi dari moda transportasi sejenis di Bogota diciptakan untuk memecahkan masalah kemacetan di Jakarta.

Lha kalo di korodor I pancen oye Mas..di koridor lain gimana?

Koridor II dst kan dibangun di kawasan yang berdisiplin rendah, makanya jalanan yang tadinya macet jadi semakin ga karu-karuan.

Lha bapak-bapak petinggi Jakarta itu terus pada mikirin social & opportunity cost-nya ga sih??

Maksud kamu?

Ya itu Mas..kalo busway dirancang untuk mengatasi kemacetan, lalu biayanya dibandingkan dengan pemborosan sia-sia dari BBM orang-orang yang terkena kemacetan, kerusakan lingkungan, produktivitas pekerja yang anjlok dan lain-lainnya itu? Gimana dong?

Wah..bukan saya yang berkompeten menjawabnya. Tapi setau saya, ada beberapa pejabat yang memang bilang kalo kemacetan itu di’sengaja’, biar para pengendara mobil tau rasa™ dan pindah ke busway.

Ooh..jadi dipaksa ya Mas?

Iya sih kayanya, biar proyek jalan terus ga terjadi kemacetan gara-gara mobil pribadi, meskipun untuk itu harus mengorbankan hal yang lain.

Nah, kemacetan gara-gara kendaraan pribadi ini sebenarnya dimulai dari pengendaranya sendiri. Kalo kita lihat tiap pagi (hari kerja dan anak sekolah pada masuk), kendaraan ini bersaing untuk mengalahkan satu sama lain, sama jahatnya dengan para kopaja dan metromini itu. Ada jalur kosong, sikat. Ada orang lambat, potong. Ada yang ga maju, klakson sepuasnya. Apalagi ada jalur busway nganggur, sementara jalur umumnya macet, ya belok deh.

Kalo diambil contoh Bogota yang jadi model busway dengan Trans Milenio-nya, mereka sudah memikirkan konsep yang terpadu dalam pengadaan jalur khusus ini. Dibandingkan dengan Jakarta, Bogota terlihat dapat berpikir secara jernih dan tidak diburu deadline terburu-buru, sehingga dapat benar-benar mematangkan konsep moda transportasi umum yang murah, cepat dan terjangkau bagi masyarakat. Di Jakarta sama sekali tidak terdapat kebijakan yang komprehensif dan saling melengkapi satu sama lain, sehingga dapat dihindarkan terjadinya masalah seperti antara Dishub dan Polisi ini. Jadi intinya? Berbahagialah masyarakat pemakai busway yang dapat memanfaatkan angkutan ini, meski jauh dari kenyamanan. Sedikit berduka bagi pemakai kendaraan pribadi yang sama-sama bayar pajak tapi tidak boleh menggunakan beberapa ruas jalan yang dibangun dari uang pajaknya. Kepolisian jadi semakin capek. Dishub juga jadi bingung. Petinggi-petinggi tetap makmur karena adanya proyek kejar setoran ini. Kapan Jakarta semakin baik?

2 komentar

  1. Just curious….
    Mungkin ngga polisi nyuruh mobil masuk jalur busway itu bagian dari permainan perebutan kursi DKI 1? You know, polisi vs sipil…supaya kesannya proyek busway gagal total mengatasi kemacetan jakarta..dan polisi sebagai pahlawan di kala kemacetan?
    Cheers… =D

  2. Hmm..

    Meskipun gw sebenernya rada anti-busway, tapi gw juga ngehargain upaya seorang Sutiyoso dalam mengurangi kemacetan. Jadi, kalo kita ga mau ikutan busway, konsekuensinya adalah kita harus rela bermacet-macet, terlepas dari tidak efektifnya proyek busway saat ini.

    Kalo ngeliat kondisi di lapangan sekarang, kebijakan (atau kesepahaman) antara Polda Metro Jaya dengan Dishub DKI yang hangat2 tai sapi, gw rasa sih ga ada konspirasi dalam rangka perebutan kursi DKI 1. Toh sebelum Pilkada(l), aturan main yang udah ditetapkan itu tetap tidak diterapkan. Masih banyak polisi ato petugas dishub yang membiarkan kendaraan pribadi masuk ke jalur busway.

    Proyek busway gagal? Mungkin iya, mungkin nggak. Yang jelas-jelas bikin keliatan gagal itu ya karena mental pengendara yang ‘slonong-boy’ seenak belly button. Udah gitu ga mau ikut milih gubernur, n bisanya sekarang cuma nyumpahin si gubernur aja😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: