Jakarta oh Jakarta…mental penduduknya juga tanda tanya..

Walaupun aku merupakan pihak yang ‘sedikit’ menentang adanya transjakarta (karena proses, evaluasi proyek dan ‘amdal’nya yang tidak transparan dan ga jelas apa maunya, serta jelas-jelas berorientasi proyek), tapi setidaknya aku masih berusaha mematuhi rambu-rambu yang melarang kendaraan pribadi/umum memasuki lajur khusus transjakarta. Apalagi setelah adanya insiden dibakarnya mobil dinas perhubungan gara-gara ‘menilang’ kendaraan yang nyelonong masuk busway. Tapi, koq masih ada berita yang menyatakan bahwa aturan masih juga dilanggar, yaitu banyanya kendaraan pribadi/umum yang nyerobot ke jalur khusus yang dibanggakan Sutiyoso tersebut.

Masih ingat dengan Perda yang mewajibkan sepeda motor berada di sisi kiri/jalur lambat? Sekarang kalo kita lihat di Gatot Subroto, Letjen Suprapto (Cempaka Putih), dan masih buaaaaaanyak lagi di ruas-ruas jalan lainnya..motor seenak udel zig-zag di jalur cepat atau lajur kanan. Keadaan ini menunjukkan parahnya mental orang-orang Jakarta (dan orang yang bekerja di Jakarta, padahal rumahnya udah Jakarta coret) serta lemahnya penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Bahkan, sosok oknum militer (yah, kalo bisa disebut dengan jelas biasanya MARINIR atau mobil berplat MABES TNI) juga asoy geboy melenggang masuk jalur busway. Pernah salah seorang teman yang bilang kalau dia di daerah Mampang – Buncit melihat kenyataan bahwa kekuatan polisi dalam me’minggir’kan kendaraan yang masuk jalur busway masih lemah di hadapan MARINIR. Ga di situ aja koq. Biasa aku lihat dari Tugu Tani ke arah Senen, biasa juga macam-macam kendaraan termasuk aparat berseragam yang mengangkangi peraturan yang ada.


Sampai titik ini, kadang aku suka berandai-andai…. Andai saja Jakarta bisa tertib dan teratur layaknya kota-kota besar yang beradab dan manusiawi, yah..seperti di luar negeri itulah. Andai saja sarana transportasi massal Jakarta juga bisa menjauh dari pakem “KALENG IKAN SARDEN”, yang memaksa penggunanya berdesak-desakan dengan berbagai macam bau dan penjahat. Hmmm…andai saja…

Seorang temanku yang lain berkata..

Be, apa mungkin yang kita butuhkan adalah revolusi? Karena dari yang gue liat sekarang, udah ga bisa deh kayanya kalo kita merubah mental orang-orang yang membatu menjadi lebih baik”

Revolusi. Aku ga akan berpanjang-panjang membahas makna revolusi. Yang jelas saat ini adalah..bagaimana sih bentuk revolusi yang diperlukan untuk merubah mental BIADAB menjadi mental BERADAB? Bakal banyak perdebatan yang berkembang dari sisi ini. Tapi, aku menemukan sebuah komunitas yang menurutku sejalan dengan pemikiranku..atau paling tidak, aku bisa belajar dari mereka. Komunitas ini adalah JBRB (JAKARTA BUTUH REVOLUSI BUDAYA). Hanya saja, aku memang belum bisa berkontribusi banyak seperti mereka…makanya seperti yang sudah aku bilang, masih butuh banyak belajar dari komunitas-komunitas seperti ini.

Mulai dari diri sendiri..memang agak susah kedengarannya. Seperti kata iklan rokok, enaknya, rame-rameeeee.. Makanya, kalo udah bisa meluangkan sedikit waktu, kayanya boleh juga gabung ke JBRB ini. Sekarang sih, tetep..mulai dari diri sendiri..hehehe

5 komentar

  1. aparat berseragam yang mengangkangi peraturan yang ada.

    Hehehehe beginilah Indonesia kita yang tercinta…
    Semakin lama saya bingung beda antara negara dan pemerintah😀
    Ingin mencintai negara tapi takutnya salah sasaran dan akhirnya jadi mencintai pemerintah😀

  2. Nah..komen ini sama WP ditaruh di bagian bal-balan..ancoooor.., tak pindah ke sini, avatarnya malah punyaku…huahahaha

    Ya gimana ya mas, saya juga ga ngerti tuh. Emang ada bedanya ya (sekarang)? hehehe. Peraturan semakin dilecehkan, rakyat juga dilecehkan😦

    *bingung mode*

  3. […] Muhammad Irfan paling tuwa sendiri umurnya 27 tahun, menetap di Jakarta, satu satunya yang mengenal teknologi, menjadi Sarjana, lulusan Unipersitas Endonesia, dia juga […]

  4. kagak cm di jakarta, di solo ada hal2 yg sepatutnya ga pantes untuk dilakukan. kukira orang2 solo ramah2 , eh ada jg yg lebih parah dari “ga sopan”.

  5. @ krew

    kalo bisa disebut Mas/Mbak, apa sih parahnya? aku (meskipun ada darah solonya) juga kadang sebel koq. Kejadian yang sering sih, banyak orang mabuk (semester pertama tahun ini aku ke solo/pasar klewer) yang ngeracau ga jelas n ‘misuh-misuh’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: