Adil dalam berpendapat

IPDN. Siapa yang ga tau dengan nama ‘besar’ salah satu institut milik pemerintah ini?

Minggu ini kembali kita mendengar berita mengejutkan dari kawasan Jatinangor, yaitu tentang tewasnya seorang tukang ojek yang konon kabarnya dikeroyok oleh praja IPDN. Kita tidak akan membahas kejadian pengeroyokan ini, tapi melihat komentar masyarakat mengenai peristiwa ‘heboh’ yang paling mutakhir terjadi di lingkungan IPDN.

Kenapa sih koq yang dibahas malah pendapat orang alias para komentator?

Kecenderungan masyarakat saat ini dalam melihat permasalahan yang terjadi di kampus IPDN sudah tercemar berbagai stigma bahwa IPDN adalah kampus penghasil bajingan birokrat yang tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan. Hal ini mulai terjadi sejak adanya kasus kekerasan yang dialami oleh praja Wahyu Hidayat hingga meninggal dunia. Bersamaan dengan itu, tersebar pula rekaman yang menggambarkan betapa sadisnya penggojlokan praja baru oleh seniornya di IPDN (dulu bernama STPDN). Kekerasan terus terjadi meskipun kampus ini sudah menjadi target utama cercaan dan sorotan masyarakat luas. Inilah yang membuat masyarakat ‘silap mata’ setiap ada masalah yang menghampiri kampus IPDN.

Akibat yang terjadi dari kontinuitas kekerasan dan ketidakjelasan penyelesaian masalah (apalagi dengan tidak jelasnya sanksi pelaku kekerasan) adalah apatisme dan sinisme masyarakat begitu nama IPDN terdengar. Seperti kasus terakhir dengan tewasnya si tukang ojek.  Oke..sekian banyak versi cerita/kronologi yang beredar..dan hal itu tidak akan dibahas di sini. Yang menarik adalah munculnya sekian banyak komentar-komentar pedas yang memperlihatkan mentalitas si tukang komentar yang (sepertinya) tidak lebih baik dari praja-praja (yang dikatakan) pembunuh itu. Berkomentar artinya adalah mengemukakan pendapat. Dalam kasus tertentu di mana terjadi suatu hal yang serius, misal, perbuatan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, tentu semua orang mengetahui bahwa perbuatan membunuh adalah perbuatan yang tidak bisa diterima, apapun alasannya. Namun, orang-orang lupa bahwa di mana ada asap di situ ada api. Perbuatan tercela seseorang (katakanlah preman mabok) yang memancing rasa solidaritas orang lain untuk membantu yang tertindas yang menjadi awal kericuhan, ataukah perilaku arogan para praja? Orang-orang yang tidak melihat langsung tentu saja tidak bisa serta merta menjustifikasi, menghakimi, atau apalah istilahnya, terhadap kasus tersebut melalui komentar-komentar yang tidak enak didengar.

Bubarkan IPDN? Hukum mati praja pembunuh? Ratakan kampus dengan tanah? Atau komentar lain? Apa hak kita mengeluarkan komentar yang menghakimi? Keluarkanlah komentar yang bisa dipertanggungjawabkan dan benar-benar buah pemikiran akal budi manusia untuk kasus-kasus serius seperti ini. Bukan komentar sembarang seperti yang sering saya lakukan ketika membaca artikel atau tulisan ringan. Begitu juga masyarakat sekitar kampus. Meskipun mereka muak dengan perilaku penghuni kampus..toh mereka juga lebih mengerti apa yang merekalihat sehari-hari. Kampus diratakan dengan tanah? Penduduk sekitar sepertinya tidak akan berbicara hal seada…karena sudah terbentuk simbiosis mutualisme di antara mereka (juga dengan mahasiswa kampus UNPAD tentunya) dalam hal rezeki. Apakah orang-orang yang jauh dari Jatinangor ingat tentang hal ini? Entahlah..yang jelas saya sendiri ga tau isi hati penduduk sekitar, meskipun mereka amat sangat marah atas peristiwa terakhir di Jatinangor ‘Town’ Square.

4 komentar

  1. Konsep ‘bubarkan IPDN’ di sini menurut gw nggak sama dengan ‘ratakan kampus dengan tanah’ be, soalnya:
    1. sayang kalo aset segede gitu mo diratain sama tanah, lagian emang tanahnya mau di’sama ratain’ sama IPDN? =p
    2. bener kalo udah terjalin simbiosis mutualisme dengan masy sekitar kayak penjaja makanan minuman kos2an tukang ojeg deelel

    oleh karena itu (menurut gw pribadi) IPDN menyetop penerimaan mahasiswa baru dan menyelesaikan sisa tahun ajaran mahasiswa yang ada sampe kelar, trus abis itu bubar n lahannya diperuntukkan bagi sesama institut pendidikan negeri lain yaitu UNPAD jatinangor, yang notabene lebih dapat mencetak sarjana-sarjana handal cinta damai gemar menabung gagah berani haus tantangan setiap hari seperti HE ndrik Yopin.

  2. Bener kata lo Ga..konsep lo emang top markotop dah😀

    Jadi maksud lo kita bikin konsep “Lost Generation” di IPDN kan?

    Cuma yang gw tanyain..ada apa lo ama cewe UNPAD di Jatinangor? Lu lulusan mana seh? Koq gw lupa yak? hehehehehe

    *Hendrik Yopin tuh cewe pa cowo seh*

  3. Soal IPDN ? Wah, perlu didandani total.

  4. Dandani mungkin setelah dirombak total..kalo nggak, luarnya bagus dalemnya bobrok😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: