Ah..lagi-lagi jalan tol

*Protes Mode: ON*

Jalan tol, sebagaimana pengeritan yang ada dalam Wiki, seharusnya merupakan jalan yang tidak mengenal yang ‘makhluk’ yang namanya MACET. Yang terjadi di Jakarta saat ini adalah, kemacetan yang menghantui setiap pengguna jalan tol setiap jam sibuk (pagi dan sore). Apalagi (yang menyakitkan) untuk menggunakan jalan tol, pengguna jalan harus membayar sejumlah tertentu untuk dapat lewat jalan tersebut. Maka bayangkanlah, sudah bayar tapi harus pasrah menerima keadaan (baca: macet).

*Switch to Sok Bijak & Sok Tau Mode*

Mulai dari macetnya aah..

Orang Jakarta pasti sangat terbiasa dengan kemacetan. Entah itu macet pada saat berangkat/pulang kantor/sekolah, macet saat tamu penting lewat, macet karena angkot/kendaraan umum jahanam seenaknya berhenti, atau bahkan macet yang jauh dari Jakarta, yaitu saat liburan ke Bandung atau saat mudik lebaran. Macet sendiri sebenarnya terjadi karena panjang ruas jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan (pribadi dan umum). Namun di Jakarta semakin diperparah oleh para pengendara berperilaku setan yang kurang disiplin dalam berkendara, plus sarana transportasi umum yang sangat tidak memadai.

Kembali ke jalan tol.

Pengguna jalan tol dari arah timur Jakarta pasti pernah mengalami kemacetan yang menjengkelkan pada hari Senin pagi, saat setiap orang bergegas ke kantor, sekolah, upacara, de el el. Ruas tol yang lain, misal dari arah Tangerang, pasti juga samalah keadaannya. Kalau dipikir-pikir, apa sih yang bikin macet di tol? Wah, ga tau ya. Yang jelas, pembangunan jalan tol di Indonesia (Jakarta – red.) terlihat tidak padu dan tanpa perencanaan yang matang, ditambah orientasi cari untung tanpa memikirkan pengguna jasanya. Kita sadar sekali dengan para rekanan yang cari untung dan pejabat yang tamak keterbatasan sumber daya, yang menyebabkan tidak efektifnya jalan tol dalam menjalankan fungsinya. Cuma koq ya kebangeten gitu, kalo ternyata di ibu kota negara ini tidak ada yang namanya JALAN BEBAS HAMBATAN secara riil.

Kegagalan penyelenggaraan jasa jalan tol (tanpa didukung data yang valid pun) sudah dapat dikira-kira bahwa banyak kerugian yang timbul karenanya. Macet, menimbulkan kerugian dari sisi waktu, penghamburan uang yang tidak jelas (ditambah sekarang banyaknya protes dari masyarakat perihal rencana kenaikan tarif tol dan realisasi tarif tol di ruas Cikunir – Jatiasih atau JORR yang tanpa sosialisasi), pencemaran udara, dan kerugian kesehatan (dari pernafasan sampe kanker dan jantung lhooo).

Kalau dilihat dari instansi yang bertanggung jawab terhadap jalan tol, yaitu Badan Pengatur Jalan Tol (regulator) dan Jasa Marga (operator) sesuai dengan UU No. 38/2004 tentang jalan tol, masih belum ada tindakan nyata dari Pemerintah dalam mengatasi keruwetan di lapangan. UU tersebut dapat dibilang masih seperti macan ompong, apalagi terdapat pasal (yang sedikit menguntungkan investor jalan tol namun dengan alasan yang KONYOL) yang memungkinkan kenaikan tarif setiap dua tahun dengan memperhitungkan tingkat inflasi. Halah halaaah..pasal karet ini. Mohon yang ahli ekonomi mengoreksi apabila tulisan ini salah. Pemerintah lebih memikirkan pengusaha dan pemodal yang memiliki uang daripada memikirkan minyak tanah, minyak goreng dan kebutuhan sembako lain bagi rakyat kecil. Mosok pemerintah rela bersusah-susah meng-gol-kan satu UU ke parlemen hanya untuk membela pengusaha? Hmmm…memang bau duit tercium di sini. Duit yang bocor dan nyebar kemana-mana.

Cukup ah mode sok tau dan sok bijak

Apapun, adanya jalan tol, terutama nih dengan yang baru dibuka, masyarakat mempunyai lebih banyak pilihan dalam perjalanannya, meskipun kadang diimbuhi dengan tarif yang ga masuk akal semata-mata untuk mengejar impas. Masyarakat juga harus nrimo sadar akan risiko ber-jalan tol ria di Jakarta, yang tidak bebas dari kemacetan parah dan tarif yang selalu naik tanpa diimbangi oleh kenaikan pelayanan (a.k.a. jalan tol mulus, bebas macet, petugas yang siap dalam keadaan darurat, sarana telekomunikasi pada jarak tertentu jika ada yang butuh pertolongan, de el el). Coba bayangkan jika tidak ada jalan tol. Masyarakat pasti tambah pusing dan ga bisa protes kalo lewat jalan biasa. Benar kan?

3 komentar

  1. Abe… jalan tol itu memang sering disalahartikan jadi jalan bebas hambatan. tapi kan sebenernya disebut jalan tol, karena mbayar🙂

    http://en.wikipedia.org/wiki/Toll_road

    di belakang pasar baru bandung juga ada tuh toll road, setiap mobil yang lewat situ harus mbayar (dikasi tiket lho… tapi tiket parkir :)))

  2. Udah ada koq link definisi toll road alias jalan tol di tulisan ini war..
    Cuma yang jadi masalah, kita bayar tuh pasti ada timbal baliknya. Apa itu? ya salah satunya adalah bebas hambatan. Ide awalnya kan adalah jalan bebas hambatan yang jika orang mau lewat situ harus bayar, makanya namanya jadi jalan tol.

    Abe… jalan tol itu memang sering disalahartikan jadi..

    Jadi, sebenernya ga ada tuh istilah salah arti. Adanya ya salah pengelola jalan tol, dan penggagas jalan tol, dan perencana jalan tol, dan lain-lain. Kalo arti yang salah, koq kayanya enggak. CMIIW

  3. citramong · · Balas

    Jalan Tol Lol, rel kereta atau apapun namanya jik dilewati manusia memanga harus ada dananya ( Jer basuki mawa bea )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: