Pengalaman di antara pendemo “Bubarkan Ahmadiyah!!”, 18 Juni 2008

Pagi ini aku sengaja dateng pagi ke kantor, biar ga keduluan ama bos. Malu kan  anak buah dateng belakangan. Nah, di jalan, tepatnya di kawasan tugu tani aku melihat banyak sekali bis-bis dan motor dengan pengendara dan penumpang berpakaian putih-putih. Pikiran pun kembali melayang, memutar kembali rekaman peristiwa insiden Monas 1 Juli 2008.

Kenapa, koq bisa pikiran ini melayang ke ingatan pahit itu? terlepas siapa yang benar dan salah ya.. Ketika aku berada di tengah-tengah mereka..para pendemo berseragam putih..suasana yang terasa SANGAT BERBEDA dengan yang ibuku ceritakan waktu beliau berada di lautan baju ihram di tanah suci sana. Para manusia berseragam putih yang pagi ini memenuhi kawasan Gambir bisa dikatakan setan berkedok peci dan jubah.

Eh Be..kenapa koq su’udzan banget sih dengan orang-orang itu? mereka kan memperjuangkan keyakinannya

Benar, mereka memperjuangkan keyakinannya. Tapi berapa persen? Berapa persen dari para pendemo itu yang benar-benar tau substansi dan esensi dari hal yang mereka ributkan? Ditambah lagi kelakuan brutal para pemuda (pemuda masjid? Pemuda muslim?) yang menendang tiap kendaraan yang menghalangi laju mereka. Aku sendiri hampir jadi korban seseorang yang “nggandhul” di pintu Kopaja yang membawa mereka ke Gambir. Segera kubuka kaca jendela mobil dan kuteriaki “MUSLIM APAAN KALIAN? JADI MUSLIM YANG BENER DONG!!!!” Dan mereka membalas dengan meneriakkan isi kebun binatang ke mukaku.

Dari contoh ini sudah terbaca, mereka adalah sekumpulan pemuda-pemuda malang yang ga punya kerjaan yang mungkin dibayar sekelompok kepentingan. Apa sih urgensi mereka untuk bubarkan Ahmadiyah? Wong gerombolan ini tidak menjalankan Islam yang kaffah (salah ya nulisnya..hehe..maklum, bukan habib). Gerombolan pelanggar lalu lintas, ga pake helm, ga ikut aturan, menyebarkan kengerian pada masyarakat??

Sekali lagi, bukan esensi para pendemo yang aku masalahkan, jadi bukan masalah Ahmadiyah yang diributkan di tulisan ini. Tapi perilaku pendemo itu sama sekali tidak mencerminkan Islam yang aku anut. Jadi pantaslah kalo aku juga ikut-ikutan meng’kafir’kan mereka dari segi akhlak dan perilaku..

Tulisan ini adalah semburat pemikiran orang yang akhlak perilakunya belum Islam banget, tapi didzalimi oleh orang yang mengaku Islam dan berlindung dibalik Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: