Cagar Budaya..seberapa penting bagi penguasa? (dan partai-partai politik itu)

Cagar budaya..

Sudah sering kita dengar rangkaian dua kata itu…cagar budaya. Hampir sama dengan cagar alam yang bertujuan melindungi alam dari kepunahan..cagar budaya ini menurut UU No. 5 Tahun 1992 adalah TIDAK ADA ARTINYA. Dalam Ps. 1 Ketentuan Umum, yang ada hanyalah Benda Cagar Budaya dan Situs, bukan pengertian CAGAR BUDAYA itu sendiri (setidaknya menurut pemahamanku yang bukan sarjana hukum lho). Bingung ga? Aku aja bingung..apakah CAGAR BUDAYA dan BENDA CAGAR BUDAYA adalah hal yang sama atau berbeda..

Ok..dilanjut aja..

Akhir-akhir ini aku koq sering baca & denger di koran atopun di TV, kalo di Indonesia ini penghargaan terhadap peninggalan-peninggalan sejarah sangat rendah. Ini juga berlaku terhadap benda-benda cagar budaya yang terletak di lokasi strategis, yang notabene punya nilai ekonomis tinggi. Kemaren di Bandung aku sempet baca koran, ada kolam renang di Cihampelas yang katanya masuk kategori benda cagar budaya tapi terancam dihancurkan. Padahal dalam UU tentang Benda Cagar Budaya sudah diatur (meskipun tetep ga jelas) sanksi-sanksi bagi yang melanggar segala ketentuan dalam UU tersebut. Tapi yang terheboh tetep, kasus waralaba dari Prancis yang mengambil alih fungsi salah satu benda cagar budaya menjadi RESTO & KAFE MAHAL. Gedung Imigrasi Menteng..yang mendadak menjadi BUDDHA BAR, menjadi polemik karena (aku ga ikut2 masuk ke dalam isu agama ya), tapi lebih karena pengalihan fungsi gedung itu yang sarat dengan aroma KKN, dan UUD.

Kenapa? Yah..silakeun dibaca dan dicari sendiri di koran dan internet..semua juga tau koq.

Nah..itulah cermin penguasa kita..(dan mantan penguasa..dan partai politik yang dengan urusan kaya gini aja kaga mau ambil pusing).

Katanya bangsa besar, menghargai sejarah, bla bla bla..bla bla bla. Wakil kita yang (katanya) terhormat (meskipun banyak yang di-KPK-in) juga mingkem aja..padahal ekspos pengalihan fungsi benda cagar budaya begitu sering dan berulang. Apa sih yang kurang kalo lokasi gedung yang dipermasalahkan itu ada di Menteng? Dengan anak-anak 2 mantan penguasa bercokol sebagai owner dari resto mahal itu? DPRD DKI Jakarta sudah pernah bersuara..tapi tindak lanjut masih nihil.

Memang tulisan ini dibuat setelah kasus ini rada mereda..tapi redanya itu koq setengah-setengah..selesai juga enggak. Yang perlu dicatat adalah bahwa konsistensi pemerintah (dalam hal ini Pemda/Pemprov Jakarta) yang NOL BESAR dalam konservasi nilai-nilai budaya dan sejarah, masih bercokolnya pengaruh penguasa (dan mantan penguasa) dalam setiap pengambilan keputusan, penegakan peraturan (UU) yang masih NIHIL, dan yang paling lucu kalo baca dari sini, “Gubernur Sutiyoso telah meresmikan kembali penggunaan gedung tersebut pada Senin, 10 September 2007.  Gedung yang terbengkelai sejak ditinggalkan sekitar tahun 1999 tersebut diputuskan Pemerintah DKI untuk diselamatkan tahun 2003.

Dan sekarang sudah terbaca, gedung itu diselamatkan untuk siapa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: