Mobil Ramah Lingkungan dan Ironi Kebijakan Pajak Indonesia

Minggu ini, pameran teknologi otomotif terbesar di Indonesia telah dimulai. Indonesia International Motor Show 2009, yang bertempat di Kemayoran, tetap diselenggarakan di tengah lesunya kondisi perekonomian dan dibayang-bayangi kejadian Bom Mega Kuningan 2 minggu sebelumnya. Kita tidak akan menyoroti secara mendalam IIMS ini, tapi cukup melihat peristiwa menarik pada acara pembukaan IIMS 2009 ini. Menteri Keuangan kita dalam acara pembukaan turut mencoba salah satu produk masterpice dalam teknologi otomotif. Ya…dia turut merasakan nikmatnya naik di dalam Toyota Prius, salah satu mobil berteknologi hybrid terlaris di dunia.

Sedikit menyinggung tentang Prius dan mobil hybrid lainnya. Ide awalnya adalah menciptakan mobil yang memiliki efisiensi BBM tinggi dan ramah lingkungan. Setelah terwujud di akhir dekade 1990an, Prius menjadi yang pertama dalam jagat kendaraan hybrid dunia yang diproduksi massal. Meskipun masih mendapatkan kritik dan saat ini mendapatkan rival dari teknologi commonrail diesel dan twin-charged stratified injection, yang memiliki efisiensi yang luar biasa dengan output optimal, namun teknologi hybrid dipandang masih merupakan jalan kompromi terbaik untuk mendapatkan performa maksimal namun tetap ramah lingkungan.

Sedikit menyinggung fenomena yang terjadi sebelum krisis global mendera, yaitu tingginya harga minyak bumi, dan hangatnya isu lingkungan, terutama perubahan iklim. Indonesia telah mengambil peranan penting dalam United Nations Climate Change Conference (UNFCCC), dan Indonesia menjadi pihak dalam rencana kerja sama jangka panjang dalam penanganan isu perubahan iklim secara komperehensif. Meskipun dalam Bali Action Plan (dan juga hasil pertemuan lain setelah konferensi di Bali) tidak menyentuh penanganan segera dalam isu perubahan iklim, namun sudah semestinya semangat untuk menyelamatkan bumi sudah dimulai dengan kesadaran sendiri (ya pemerintah, juga masyarakat Indonesia).

Kembali ke IIMS 2009 dan Ibu Menkeu (dan Pak Menteri Perindustrian). Ketika mencoba Prius, semua juga sadar sesadar-sadarnya kalo Ibu Menkeu sempat menanyakan harga mobil hybrid ini. Dan semua yang hadir di situ juga (seharusnya) sadar kalo secara implisit Direktur Pemasaran PT. TAM juga ‘meminta’ keringanan pajak a.k.a insentif untuk produk hijaunya. Lalu pertanyaannya, kenapa sampai saat ini harga mobil ramah lingkungan itu masih setara dengan 1 unit BMW seri 3 terbaru? Kenapa pemerintah terkesan sekedar mengejar target penerimaan pajak tanpa mengindahkan manfaat yang bisa diambil dari banyaknya orang yang menggunakan kendaraan ramah lingkungan? Hematnya BBM (tanpa dikotori lobi dari perusahaan minyak, termasuk perusahaan milik negara yang bergerak di bidang perminyakan), kualitas hidup dan kesehatan (tanpa dipengaruhi lobi rumah sakit bertaraf katanya internasional), makin rendahnya polusi di perkotaan, baik polusi suara maupun udara, tidak membuat pemerintah serta merta memberikan insentif bagi perusahaan atau siapapun yang mampu berkonstribusi positif terhadap lingkungan. Sekedar catatan, mesin ramah lingkungan juga tidak didominasi kendaraan hybrid sih…seperti disebut pertama, commonrail diesel juga termasuk mesin yang mendapat keringanan pajak di negara maju, karena gas buangnya yang rendah emisi.

Memang disadari, pemikiran pemerintah untuk hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan (dan berkaitan langsung maupun tidak langusng dengan kemaslahatan penduduk) masih tertinggal jauuuuuuuh sekali dari negara maju. Bahkan dengan negara berkembang juga tertinggal, atau paling tidak sama. Memangnya kita mau disamain terus? ga mau maju-maju? Memang sih, pemerintah sudah mensyaratkan seluruh kendaraan yang diproduksi saat ini untuk memenuhi standar emisi Euro2..tapi apa cukup seperti itu? Tetep aja pajak mobil impor ramah lingkungan tetap tinggi. Bukannya mau membela kepentingan PT. TAM dan PT. HPM yang punya produk hybrid yang teruji, tapi hasrat ingin menjaga lingkungan dengan kendaraan ramah lingkungan (baca: MOBIL/MOTOR, bukan SEPEDA) rasanya dikebiri oleh sikap tutup mata pemerintah. Bersepeda ke kantor atau kemanapun bisa merupakan jawaban..tapi melihat kondisi jalan raya di ibukota (dan do kota lain mungkin?), bersepeda juga sepertinya masih sebatas mimpi (terlebih, istri masih ga membolehkan..hehe).

Masih banyak pertanyaan dan gugatan yang bisa diajukan ke pemerintah kita kalau bicara mengenai lingkungan, termasuk komitmen menghentikan deforestasi, yang kenyataannya koq sepertinya masih jauh panggang dari api. Setidaknya, sekarang aku mengendarai mobil (agak) irit BBM, atau motor yang lumayan irit BBM. Bagaimana Pak/Bu Menteri?

One comment

  1. mas, kapan butuh file gambare?????o ya sing papermodel diganti aja link nya jadi yang ini : mypapermodel.blogspot.com

    otre

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: