Agak telat siih, tapi masih amat sangat relevan..

Tulisan ini merupakan tanggapan atas berita di detiknews.

Thanks to Mbak Monik..

CONTOH NYATA BAHWA KITA HARUS LEBIH BIJAKSANA SAAT MEMBACA BERITA DI MEDIA.

Kasus ini terjadi di Kuching, Sarawak. Saya bertemu Purwanti pertama kali tahun 2009, saat itu dia memohon masuk ke Penampungan Sementara KJRI Kuching sambil membawa anakya bernama Izwan yang masih berusia sekitar 3 tahun, dengan alasan dianiaya suaminya (secara halus saya sebut suami meskipun mereka tidak pernah menikah, sama sekali, nikah siri pun tidak), seorang WNM. Staff saya saat itu, Subroto Umar, menyampaikan kepada saya, “Bu, ini bukan yang pertama kali dia masuk shelter.” Saya coba bicara dengan Purwanti dan membujuknya untuk melaporkan kejadian penganiayaan ke kantor polisi dengan pendampingan kami, tetapi Purwanti menolak dan bahkan selalu secara diam-diam masih menemui suaminya. Berkali-kali saya coba ajak bicara untuk memulai hidup baru, bekerja, dan tidak bergantung pada suaminya yang temperamen dan kerja serabutan. Alih-alih bangkit dari keterpurukan, Purwanti malah melarikan diri dari shelter sesaat sebelum kami pulangkan ke Indonesia untuk kembali kepada suaminya. Beberapa bulan kemudian Purwanti dan Izwan kembali masuk ke shelter kami, dalam kondisi mengandung sekitar 6 bulan, dengan alasan yang sama, namun tak jua mau melaporkan penganiayaannya ke pihak kepolisian dengan alasan masih saling cinta, tidak tega dengan ayah dari anaknya, suaminya berjanji akan mengurus pernikahan mereka di Indonesia dll. Dari nasehat paling halus sampai yang paling kasar tak mempan juga dan berakhir dengan hal yang sama, melarikan diri dari shelter kami saat akan kami pulangkan ke Indonesia untuk bersatu kembali dengan suaminya. Beberapa bulan kemudian, Purwanti kembali ke shelter kami lagi, perutnya sudah kempis. Saat kami tanyakan dimana anaknya, Purwanti bercerita kalau anaknya dilahirkannya sendiri di rumah, tanpa bantuan tenaga medis, dan beberapa hari kemudian bayinya menderita panas tinggi dan diare akut sehingga harus dirawat di ICU. Bayi itu bernama Ayu Shakira (lahir saat Piala Dunia di Afsel, dengan official theme song Waka Waka by Shakira). Meskipun kondisi Ayu belum pulih, Purwanti berniat mengambil bayinya karena takut biaya rumah sakit akan membengkak di luar kemampuannya. Namun pihak rumah sakit menolak menyerahkan Ayu kepada Purwanti karena tidak terdapat bukti bahwa Purwanti adalah ibunya dan ybs tidak memiliki dokumen yang sah. Dalam kondisi tersebut Purwanti masih menerima perlakuan buruk dari suaminya dan akhirnya kembali ke shelter sambil menunggu pembuktian bahwa ybs adalah ibu kandung Ayu melalui tes DNA yang dilakukan pihak rumah sakit. Purwanti berjanji bahwa setelah Ayu dikembalikan kepadanya, dia akan pulang. Namun saat hasil DNA belum keluar, Purwanti kembali melarikan diri dari shelter untuk kembali ke pelukan suami tercinta. Beberapa bulan kemudian, hasil DNA keluar, terbukti bahwa Ayu adalah anak Purwanti. Puan Azlina dari Jabatan Kebajikan Sarawak (Dinas Sosial) datang ke kantor KJRI untuk menemui saya dan menyampaikan bahwa hasil DNA memang membuktikan bahwa Ayu adalah anak Purwanti, tetapi Pemerintah Malaysia tidak akan menyerahkan Ayu kepada orang tuanya karena mereka dianggap tidak layak menjadi orang tua yang baik, dimana ayahnya abusive dan Purwanti sendiri sangat labil dan tidak mampu menjaga dirinya sendiri sehingga Pemerintah Malaysia ingin menyerahkan Ayu langsung kepada Pemerintah Indonesia dan meminta agar saya datang ke Mahkamah Kanak-kanak untuk menerima Ayu Shakira dan menyatakan bahwa Ayu akan berada di dalam jagaan saya.

Awal Juni 2011, saya dan Marluky Andri mengambil Ayu yang berusia 11 bulan. Ayu belum bisa duduk, apalagi berjalan dan bicara. Menurut analisa dokter, kondisi Ayu saat masih dalam kandungan tidak terlalu baik, mungkin akibat ibunya selalu dianiaya ayahnya. Saya bawa Ayu pulang ke apartment saya sambil meminta bantuan Kementerian Luar Negeri RI untuk mencari orang tua Purwanti di Blitar dan berkoordinasi dengan Kementerian Sosial mengenai kesiapan orang tua Purwanti menerima Ayu Shakira. Hari2 pun dilalui bersama Ayu, belanja keperluan bayi dari pakaian, makanan, mainan, mengajak Ayu berenang, main di taman, sampai memanggil berbagai tukang pijit bayi untuk mengurut Ayu. Tiap hari mbak Sih, asisten saya yang sangat luar biasa, mengurus Ayu, dan ibu saya menemani Ayu tidur dan mengajak bermain, sementara saya cuma punya waktu sedikit saja, saat pulang kantor, bangun tidur dan libur. Pada satu malam pulang kantor, Mbak Sih pucat, lemas dan hampir pingsan. Saya pun gandeng Ibu sambil gendong Ayu dan bergegas nyetir ngebut ke rumah sakit, untunglah mbak sih langsung membaik setelah minum obat dokter, ternyata sedang datang bulan hebat sehingga kurang darah. Malam itu Ayu tidak berhenti menangis sampai pagi. Hal2 ribet seperti kejadian mbak Sih sakit, hal2 lucu, dan menyenangkan dilalui bersama Ayu. Dia suka mencium ibu saya, suka makan roti, takut kasur lipat (saya beli supaya Ayu bisa main di bawah tempat tidur), takut ban bentuk bebek (padahal saya beli untuk menemani Ayu berenang) dan balon.

Beberapa minggu Ayu tidak menunjukkan perkembangan yang biasa dialami bayi seusianya, sangat lambat, kaki dan punggungnya terlalu lemah untuk menyangga tubuhnya sendiri. Kekhawatiran ini saya sampaikan kepada ibu Wati Suprapto, saya bilang pada beliau bahwa saya ingin membawa Ayu ke dokter spesialis tetapi kesibukan kantor membuat saya tidak sempat membawa Ayu ke dokter. Hingga pada suatu hari, ibu Wati Suprapto yang baik hati menawarkan untuk mengantar ibu saya, mbak Sih dan Ayu untuk mengecek kondisi Ayu secara berkala. Berbagai dokter spesialis didatangi, dari spesialis anak, spesialis tulang dan spesialis saraf semua menyatakan bahwa Ayu tidak akan mungkin bisa berjalan dan menunjukkan gejala autism. Bahkan karena tidak dapat menerima kalau “cucunya” dinyatakan tidak dapat berjalan, ibu saya pun menyampaikan (sambil praktek, berlutut di atas kursi pasien) bahwa dari saat datang hingga dibawa ke dokter perkembangan Ayu sudah banyak, hingga bisa “leaning” ke sandaran kursi dengan dengan ditopang lututnya, sambil ibu menyampaikan kalau ibu baru dapat berjalan saat berusia 3 tahun jadi mungkin Ayu pun akan seperti itu. Dokter pun tersenyum dan berkata bahwa berapa pun uang yang kami keluarkan untuk Ayu, dia tidak akan bisa berjalan. Ibu pulang ke rumah sambil lanjut uring2an di rumah. Beberapa terapi pun dijalani Ayu. Tak terasa hampir 7 bulan berlalu dan Jakarta menyampaikan kesiapan orang tua Purwanti untuk menerima Ayu. Sedih? Pasti! Kami sekeluarga melepas Ayu dengan air mata dan dada yang sangat sesak. Akhir Des 2011 kami serahkan Ayu ke Kemsos melalui Kemlu di Jakarta. Selama saya merawat Ayu di Kuching, salah satu staff sempat menyampaikan kalau dia melihat Purwanti di jalan dalam keadaan mengandung lagi. Suaminya pun sempat datang ke kantor untuk mencari Purwanti yang minggat lagi dari rumah dalam keadaan mengandung. Beberapa bulan setelah kepulangan Ayu, Sarawak General Hospital menelepon saya mengabarkan adanya seorang WNI yang mengalami kecederaan setelah melompat dari lantai 2 bersama anaknya, WNI tersebut adalah Purwanti dan Izwan. Bergegas saya ke rumah sakit untuk mendapati Purwanti dan Izwan, yang ternyata sudah melarikan diri setelah dari jauh melihat saya datang ke rumah sakit.

Beberapa bulan kemudian saya dan Mbak Sih melihat mereka di Spring Mall, dan saat melihat saya Purwanti cepat-cepat menggandeng lengan suaminya dan meninggalkan tempat itu. Baru beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba Nur Hadianto ke ruangan saya dan berkata, “Bu, coba tebak siapa yang hari ini ada di kantor? Purwanti, the legend.” Saya langsung minta Toto untuk bawa Purwanti ke ruangan saya, dan inilah kurang lebih percakapan kami:
Saya: Apa kabar Mbak? Wah Izwan sudah besar ya, umur berapa sekarang, 6? Atau 7?
Pur: Saya sehat Bu, Izwan hampir 7 tahun.
Saya: Ada perlu apa Mbak? Masih tinggal sama suaminya?
Pur: Nggak Bu, makanya saya mau minta paspor saya, saya mau kerja.
Saya: (nada mulai sinis dan memberondong dengan pertanyaan) Lho kok minta paspor. Dulu kalau lari dari shelter kok nggak minta paspor? Kenapa nggak sama suami lagi? Paspornya udah nggak laku mbak, tahunnya saja udah mati lama. Terus kenapa waktu itu terjun dari lantai 2? Bawa-bawa Izwan lagi. Kalau mau mencelakakan diri jangan bawa-bawa anak kecil mbak. Kasian Izwan.
Pur: (mulai ketakutan) Itulah Bu, suami saya main pukul lagi, Izwan juga dipukul, makanya saya lari, saya mau cari kerja aja, buat pulang kampung.
Saya: (sudah tanpa keinginan untuk berhalus-halus) Mau pulang kampung kenapa harus kerja, saya saja yang pulangkan, gratis. Mbak kan tahu itu. Saya tau kok mbak, mbak mau kerja di sini buat ulur waktu sambil nunggu suaminya bertobat, minta maaf, bilang “aku cinta padamu, kembalilah padaku” dan mbak masih kepingin kembali kan? Akui saja Mbak, saya juga perempuan kok mbak, saya paham. Itu dulu kan sempat hamil adiknya Ayu, mana bayinya?
Pur: (mulai berkaca-kaca) meninggal Bu.
Saya: Karena dipukuli juga?
Pur: (mengangguk)
Saya: Mbak Purwanti… Mbak Purwanti… Ck ck ck… Apa yang diharapkan dari laki-laki seperti itu? Kasar, pengangguran, mending kalau kaya mbak bla bla bla…etc etc… Mbak tahu Ayu sekarang ada di mana?
Pur: Ada di Panti Asuhan di Jawa Timur Bu. Orang tua saya yang kabari saya.
Saya: Mbak Pur tahu siapa yang rawat Ayu setelah waktu itu sembuh sampai pulang ke Indonesia?
Pur: Rumah Sakit Bu.
Saya: (nada mulai meninggi, mata mulai berkaca2) Saya Mbak, tujuh bulan Ayu di rumah saya. Siapa yang tidur sama Ayu, siapa yang ganti popok dan memandikan? Siapa yang beli baju, makanan, mainan? Siapa yang antar terapi tiap minggu? Siapa yang ajak bermain? Siapa yang gendong kalau Ayu nangis? Siapa yang antar ke dokter? Siapaaa??!! Saya, Ibu saya yang sudah 74 tahun dan pembantu saya Mbak, tujuh bulan mbak!!! Mbak dimana waktu itu? Lebih suka dipeluk suami yang *beep* daripada peluk Ayu, urusin Ayu? Tau nggak Mbak, Ayu nggak bisa jalan Mbaakk (suara sampai kedengeran di seluruh lantai atas). Karena apa? karena Mbak Pur terlalu cinta sama suami Mbak sampai-sampai mengorbankan Ayu yang masih di perut. Saat Ayu diserahkan ke Jakarta, Mbak Pur nangis nggak? Mbak Pur nggak peduli, siapa yang nangis Mbak? Keluarga saya, ibu saya!! (Suara sdh kedengeran sampai tetangga sebelah kantor). Mbak nggak kasihan sama anak2 Mbak? Saya saja kasihan, saya saja sayang, kok mbak nggak peduli. Mereka nggak minta dilahirkan Mbak, mbak yang bikin mereka lahir ke dunia, tanggung jawabnya manaaa? Mau bikin berapa anak lagi Mbak? Mau bikin yang kayak apa lagi? Yang nggak bisa jalan? Atau mau bunuh satu lagi? (Purwanti mulai menangis tersedu-sedu). Pulang Mbak! Kasihan Izwan, biarkan dia sekolah, beri dia masa depan yang bagus, jangan malah dihancurkan, kasihan Ayu juga nggak pernah diurusin ibunya! (Izwan pun mulai ikut menangis, melihat ibunya menangis).

Tiba-tiba Purwanti bersujud mencium kaki saya, memohon maaf, berterima kasih karena sudah merawat Ayu dan berjanji akan pulang, memulai hidup baru dan bekerja keras untuk Izwan dan Ayu.
Saya pun mulai melunak, menasihati untuk nggak usah putus asa, jangan malu dengan keluarga dan tetangga, kasih semangat untuk kerja keras demi masa depan Izwan dan Ayu, dll.
Akhirnya Purwanti pun kami pulangkan ke Blitar. Sesampai disana, ybs sms kalau tidak akan merawat Ayu dulu sampai dia dapat pekerjaan yang dapat mencukupi keperluan Ayu yang mengalami kondisi tubuh yang kurang sempurna.
Cerita ini cuma sebagian kecil usaha meluruskan fakta dari banyak pemberitaan yang sama sekali tidak sama dari fakta yang ada, dan bahkan substansi kasus ini pun kurang penting dibanding kasus2 lain. Ada sejumlah kasus WNI yang sebelumnya terancam hukuman mati dan akhirnya kami bantu pembebasannya pun diberitakan simpang siur oleh berbagai media di Indonesia. Isu pencurian organ tubuh jenazah pun pernah dihembuskan ke saya. Dear friends, berita-berita tentang WNI di negara tertentu sering kali dipelintir untuk kepentingan golongan tertentu, menghembuskan kebencian kepada pihak tertentu dan sudah sepantasnya kita menggunakan akal sehat kita untuk memberikan penilaian. Coba bandingkan fakta yang saya berikan di atas dengan isi berita yang dimuat di media. Luar biasa kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: