Mencermati Kelakuan Konsumen dan Produsen Otomotif di Indonesia

Disclaimer: Tulisan ini tidak melalui proses riset yang exhaustive. Penulis hanya mencatat beberapa fenomena di pasar otomotif domestik, termasuk menyinggung sedikit sisi kebijakan publik.

Pasar otomotif di Indonesia sangat menggiurkan bagi sebagian produsen kendaraan bermotor. Profil demografi dan populasi yang besar menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial, terbukti dari laporan Gaikindo yang menunjukkan pertumbuhan pasar domestik yang naik hingga 4,5% di tahun 2016. Itu baru pasar untuk mobil loh ya, yang tercatat mampu mencetak penjualan hingga lebih dari 1 juta unit di tahun 2016 lalu. Hal ini tentunya merupakan angin segar bagi produsen yang sudah cukup menderita menghadapi lesunya pasar dalam dua tahun terakhir.

Nah, yang menarik adalah, pertumbuhan tersebut dicapai di tengah tingginya harga mobil di Indonesia, terutama di segmen masyarakat kelas menengah. Sebagai gambaran, Kia baru meluncurkan Kia Rio dalam gelaran IIMS 2017 lalu, dengan harga mulai dari IDR250 juta. Mengambil Kia Rio sebagai tolok ukur, mari kita cermati kelakuan tiga pelaku utama pasar otomotif Indonesia, yaitu konsumen, produsen, dan regulator.

Pertama pertanyaan yang muncul adalah kenapa saya fokus ke pasar mobil kelas menengah ke bawah? Jawabannya sederhana, bahwa kelas ini adalah kelas yang paling menguntungkan dengan target pasar yang besar. Data Gaikindo sendiri menunjukkan kalo pasar mobil Indonesia pada tahun 2017 didominasi oleh kendaraan 4×2, yang 467.736 unit di antaranya adalah mobil 4×2 berkapasitas mesin 0cc-1500cc. Ini aja udah 40%an dari total penjualan. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah mobil kategori dimaksud harganya juga terjangkau oleh masyarakat? Jawabannya ya relatif. Kenapa relatif? Sebagai gambaran, istri saya beli mobil Kia Cerato keluaran 2016 di Australia dengan harga sekitar IDR190an juta. Apa yang saya dapat dengan harga segitu? Saya dapat mobil dengan kualitas cukup baik berkapasitas mesin 2000cc, lengkap dengan transmisi otomatis 6 percepatan dilengkapi mode manual. Kelengkapan lain adalah 6 airbags, ABS (tentu dengan BA dan EBD), auto dusk-sensing headlight, 7 inch AV monitor dengan bluetooth, Apple CarPlay dan Android Auto, kamera mundur, sensor parkir 8 titik depan belakang, dan tentu printilan kecil lainnya. Intinya adalah, saya beli mobil yang tidak mengalami ‘spec-down’.

Bagaimana dengan Kia Rio yang ada di Indonesia? Dari segmennya aja Rio ada di bawah Cerato. 250 juta masih manual? Iming-iming sunroof? Eksterior dibagusin tapi interior minim fitur? Inilah yang terjadi di negara kita tercinta. Contoh lain ya kelakuan sebangsa Toyota dan kawan-kawan, termasuk Hyundai juga sih. Mobil minim fitur tapi eksterior dibikin cakep. Alasannya orang Indo itu seneng ‘dilihat’. Artinya, masyarakat kadang lebih mementingkan gengsi ‘dari luar’ ketimbang fitur yang sesuai harga. Kalo kita lihat dari struktur pajak dan bea/cukai, saya kurang paham. Tapi dengan asumsi pemerintah membebankan pajak yang begitu banyak dan ribet, plus bea masuk untuk beberapa kategori yang cukup tinggi, toh jalanan di Jakarta (terutama) masih macet aja. Artinya, harga yang mahal ga menyurutkan konsumen buat beli mobil.

Jadi, menurut saya nih ya, kelakuan produsen itu memang menjawab tuntutan masyarakat yang masih suka pamer (ciri khas kelas menengah ngehe dan OKB). Salah satu ciri pamer ya kredit pun dijabanin (kaya saya juga sih). Maraknya penjualan mobil-mobil ga jelas seperti Toyota Calya semakin memperparah pandangan mata (alias eyesore) yang menuntut jalanan dipenuhi mobil yang ‘decent’. Bukannya saya menghujat orang yang membeli mobil itu. Sama sekali nggak. Cuma ini sorotan lebih ke produsen yang tamak dan haus profit dan margin plus bonus akhir tahun, yang tega-teganya menjual mobil seperti Calya ke konsumen. Kalaupun mau jual mobil seperti itu, mbok fasilitas dan standar keamanan jangan dikorbankan. Buat mobil kelas di atasnya, banyak produsen yang masih ‘membanggakan’ dual airbag sementara keamanan sisi samping dan penumpang diabaikan begitu saja. Belum lagi penyunatan fitur-fitur kecil seperti peredam panas/suara di ruang mesin yang dicopot dengan alasan ‘tidak mempengaruhi performa dan kurang penting di Indonesia’. Salah satu langkah cukup menarik ditempuh Honda, dengan Honda Civic sebagai salah satu awal dari berakhirnya era sunat menyunat. Namun demikian, struktur biaya dan logistik yang tinggi, ditambah bea ini itu plus pajak yang bertumpuk-tumpuk kembali lagi membuat harga terkatrol naik. Sekedar pembanding, di Australia, Honda Civic standar bermesin 2000cc dijual dengan harga kurang dari IDR250 juta. Demikian juga Toyota Corolla. Civic 1.5 turbo dijual mulai harga IDR300an juta. Bagaimana dengan di Indonesia? Sedih…mobil bagus hanya jadi impian.

Produsen Korea sebetulnya bisa jadi alternatif bagi produk Jepang. Kualitas mobilnya semakin membaik, dan itu diakui baik di Australia maupun di Amerika, apalagi di Eropa. Cuma masalahnya, pricing policy mobil-mobil Korea di Indonesia ini bagai mimpi kering di siang ga bolong. Mungkin agen pemegang merk di Indo mengiming-imingi prinsipal dengan ‘margin besar’ sehingga bos-bos chaebol itu ho-oh ho-oh aja pas disodori proposal harga. Pola pikir kritis konsumen harus berjalan, ga cuma ‘ingin kelihatan keren’, tapi juga harus berpatokan pada faktor keamanan dan juga fitur-fitur lain yang didapat dari harga yang dibayarkan.

Kesimpulannya, harga mobil di Indonesia sedikit memang mencerminkan kelakuan konsumen dan produsen. Di mana pihak konsumen masih kurang kritis, plus masih adanya budaya ‘umuk’ bin pamer dan gengsi. Hal ini membuat konsumen jadi sasaran empuk serigala-serigala pemasar, yang memang dipekerjakan oleh merk-merk besar untuk menyedot saldo tabungan demi margin keuntungan yang fantastis dan menguras gaji bulanan hanya untuk membayar bunga lembaga pembiayaan. Peran pemerintah sendiri sepertinya masih lemah, terutama dalam menghadirkan moda transportasi publik yang memadai, plus menyediakan skema kendaraan pribadi ramah lingkungan yang rendah polusi (dan pajak). Pemerintah jangan melihat semua konsumen yang beli mobil itu adalah orang kaya yang hanya membuang disposable income untuk bermewah-mewah. Tapi lihat juga konsumen yang terpaksa membeli kendaraan karena yang bersangkutan mungkin punya anak yang masih bayi, keluarga berkebutuhan khusus, atau orang tua yang sudah renta yang kemana-mana membutuhkan kendaraan. Menurut saya pribadi, pe-er pertama adalah di masyarakat sebagai konsumen yang seharusnya bisa jadi lebih kritis melihat tawaran produsen, jangan asal makan merk dan hanya mikir harga jual kembali. Ingat, berkendara itu harus aman (karena kita membawa keluarga tercinta), dan waktu kita berkendara sebagian besar dihabiskan di dalam mobil. Artinya, fitur keamanan dan kualitas interior haruslah memadai. Peduli syaiton dengan omongan orang dari luar, karena toh yang menikmati kendaraan itu adalah kita (yang punya). Betul gak?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: